Saham-saham Eksportir Melemah
Index saham Jepang mencapai level terendah sebulan. Saham-saham eksportir kembali melemah akibat kekhawatiran Fed Amerika akan menaikkan suku bunga kredit setelah penjualan perumahan melonjak diluar dugaan semula. Sesuai keterangan Departemen Perindustrian, penjualan perumahan baru melonjak 16% pada bulan April mencapai 981.000 perumahan dalam setahun. Para ahli ekonomi telah memperkirakan penjualan perumahan mencapai jumlah 860.000.
Index saham Amerika langsung menguat setelah beredar berita bahwa penjualan perumahan baru pada bulan April mencapai level tertinggi sejak 1993 sementara pemesanan barang-barang tahan lama mengalami kenaikan untuk bulan ketiga. Pemesanan barang-barang tahan lama (order for durable goods) melonjak 0,6% setelah pada bulan Maret mengalami revisi kenaikan 5%, lebih tinggi dibandingkan prediksi awal. Para ahli ekonomi telah memprediksi kenaikan 1%. Namun, saham berbalik melemah saat grafik tersebut memicu kekhawatiran bahwa suku bunga akan dinaikkan dan bukan diturunkan.
Index saham eksportir melemah karena yen menguat terhadap euro dan dolar setelah pemerintah merilis laporan mengenai index harga konsumen Jepang bulan April yang melemah. Yen menguat pada level 120,85/dolar dari level 121,40 di New York kemarin. Yen juga ditransaksikan pada level 162,97 dari level 163,02/euro.
Index saham juga berbalik melemah akibat kekhawatiran mengenai potensi dilepasnya saham-saham China dapat memicu hal yang sama terhadap bursa saham global. Pada 23 Mei, mantan gubernur Fed Alan Greenspan menyebutkan bahwa bursa saham China menghadapi “kontraksi dramatis”. Selain Greenspan, Li Ka-shing, orang terkaya di Asia, juga memprihatinkan bursa saham China tersebut.
Index Nikkei menguat 0,36% pada hari Senin, saham Sony Corp., Sharp Corp. dan beberapa perusahaan eksportir lain menguat, didukung oleh menguatnya saham-saham bursa Amerika serta yen yang melemah. (RISET)


